Written on 6:47 AM by Kinetics
Kevin Warwick, seorang peneliti dan profesor di bidang cybernetics berhasil mengembangkan sebuah robot generasi baru yang bisa belajar dan berinteraksi dengan lingkungan. Robot garapan Warwick ini memiliki sesuatu yang bahkan robot paling canggih pada zaman ini pun tidak punya, yaitu otak yang hidup.
Kisah robot ini dimulai ketika Warwick dan timnya mulai menyebarkan sel neuron tikus ke dalam suatu susunan elektroda. Setelah sekitar 20 menit, sel-sel neuron tersebut mulai membentuk koneksi satu sama lain. "Ini adalah respon natural dari suatu neuron," kata Warwick, "mereka mencoba untuk saling menghubungkan diri dan memulai berkomunikasi."
Otak ini kemudian diberi cairan yang berisi nutrisi dan mineral sehingga terus berkembang. Saat network dari sel-sel neuron tersebut sudah cukup mampu untuk merespon input elektrik, otak ini kemudian dihubungkan dengan tubuh robot sederhana yang terdiri dari dua roda dan sebuah sensor sonar.

Pertukaran sinyal antara sensor, motor, dan otak akan menentukan tingkah laku robot tersebut. Ketika mendekati suatu objek, jumlah pulsa elektrik yang akan dikirim dari sensor ke otak akan semakin meningkat. Peningkatan stimulasi elektrik ini akan membuat neuron tertentu "menembak", dan ini akan dideteksi oleh elektroda dimana neuron itu terletak. Elektroda tersebut kemudian akan memberi sinyal pada roda untuk berganti arah. Hasilnya adalah robot yang dapat menghindari rintangan di sepanjang jalurnya.
Pada awalnya, robot muda ini menghabiskan banyak waktunya menabrak banyak benda, tapi setelah beberapa minggu berlatih, performanya mulai membaik karena koneksi atara neuron yang aktif semakin kuat. Ini merupakan ciri sebuah proses belajar.
Namun demikian, robot ini sangat bergantung pada sel biologis, sehingga tidak akan hidup selamanya. Setelah beberapa bulan, pertumbuhan neuron pada otaknya akan melambat dan lebih tidak responsif sehingga proses belajar semakin sulit. Dan pada akhirnya seluruh sel akan mati. Yah...memang begitulah hidup.
Sumber:
http://seedmagazine.com/content/article/the_living_robot/
http://www.digitalconversations.org.nz/vc/cyborg/
Posted in
Scientist Thought
|
Written on 12:21 PM by Kinetics
"Sophia?!", teriakku kaget. "Kenapa kau ada di sini?"
"Sudah kubilang aku mau membeli makanan."
"Tapi kenapa di tengah hujan deras begini?"
"Aku lapar!", teriaknya padaku.
"Tapi di rumah pun banyak makanan. Ayo kita pulang, nanti kau sakit."
Dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku.
"Vira! Maaf aku tak bisa mengantarkanmu sampai ke depan."
"Tak apa-apa, sedikit lagi sampai, kok!", Vira berkata dengan penuh pengertian.
Akhirnya aku mengantar pulang Sophia ke rumahku. dia berjalan di belakangku dan tak mau berbicara denganku. Aku bingung dengan sikapnya yang aneh itu. Beberapa lama kami berjalan dan aku keasyikan dengan langkahku.
"Sophia! Di mana kau tinggal sebelumnya?", aku mencoba memulai pembicaraan tanpa menoleh ke arahnya. Tapi aneh, dia tak bereaksi.
"Sophia!", aku menengok ke belakang dan pemandangan terburuk terlihat olehku. Sophia tidak ada di belakangku, dia lenyap. Aku ceroboh sekali dalam mengawasinya. Jangan-jangan dia berbuat hal aneh. Apa sebenarnya maunya? Apa sebenarnya yang dia inginkan? Tadi dia mengikuti aku dan Vira! Lalu baru saja di amelarikan diri dariku. Astaga! jangan-jangan yang dia incar adalah...
Tanpa pikir panjang aku segera berlari sekencang mungkin, aku sedah tak mempedulikan guyuran hujan yang menghalangi pandanganku, payung yang kubawa pun sudah kutinggalkan. Aku berlari menuju gerbang depan kompleks rumahku, di dalam hati aku berdoa supaya tak terjadi apa-apa pada Vira karena tingkah laku aneh yang dilakukan Sophia.
Dari kejauhan kulihat Vira dan Sophia yang masih memakai jas hujan. Kulihat Sophia mulai mendesak Vira ke sebuah dinding. Dia mencekik lehernya, dan berteriak sangat keras, "AKU MENYUKAIMU!!!".
"Sophia! Apa yang kau lakukan?!", aku segera berlari mendekatinya dan melepaskan cekikannya dari leher Vira.
"Vira, kau tak apa-apa?", kataku sambil terengah-engah karena kelelahan berlari.
"Ya...T...Tak apa-apa. Tapi tadi dia mendekatiku dan mengatakan bahwa dia menyukaiku. Pada awalnya kukira ia hanya bercanda, tapi ketika dia mencekik leherku dan berteriak, aku baru menyadari kalau dia tiak main-main. Untunglah kau datang.", ucap Vira dengah gugup.
"Sophia!! Mengapa kau melakukannya pada Vira?! kau juga seorang gadis bukan?", kataku dengan nada agak membentak.
Dia terdiam menunduk dan dari matanya keluar air mata yang deras, pandangan tajamnya berubah menjadi tatapan seorang anak kecil yang memelas, lalu ia berkata, "A...Aku...A...Aku tidak tahu! Aku tak tahu!!!", lalu perlahan-lahan dia menjauh sambil melangkahkan kakinya ke belakang.
"AKU TIDAK TAHUUUUU!!!", dia berteriak sambil berlari menerobos guyuran hujan yang begitu derasnya. aku dan Vira hanya bisa membisu di tengah tangisan langit yang meniringi tangisan seorang gadis. Seorang gadis yang tak bisa mengerti akan dirinya sendiri.
Pada malam harinya dia terus mengurung diri di kamarnya. Tangisannya yang terdengar sendu mewarnai suasana malam yang sunyi. Aku dan ayahku tak bisa melakukan apa-apa dan terpaksa membiarkannya seperti itu.
Waktu berlalu sangat cepat sehingga malam yang kelam perlahan terlihat memudar, dan pagi pun menjelang. Suasana pagi ini sama persis seperti pagi sebelumnya. Dua potong roti berselai strawberi dan segelas susu coklat panas sudah tersaji di meja makan. Kejadian kemarin terasa seperti mimpi. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda, pagi ini kudengar seseorang membuka pintu dan dia menghampiriku.
"Maafkan aku, Riki! aku memang telah berbuat salah. Aku memang kurang ajar. Aku berjanji tidak akan menyukai orang lain yang tak sepantasnya kusukai.", sesalnya dengah nada yang bersungguh-sungguh.
"Bagus bila kau sudah mengerti, jadikanlah peristiwa kemarin sebagai pelajaran untukmu."
Aku bersyukur akhirnya masalah ini selesai, aku bisa tenang kembali tanpa khawatir akan terjadi hal-hal aneh lagi. Tapi, rasa legaku sedikit ternodai ketika aku melihatnya sekilas sedang berada di depan cermin. Rasa legaku semakin ternodai ketika dia menyentuh bayangan wajahnya dengan tangan kanannya secara lembut, di wajahnya tergambar senyuman rasa puas. Lalu ia berbisik dengan lembut sambil matanya menatap tajam bayangan wajahnya sendiri di cermin, "Aku menyukaimu.".
THE END
Posted in
Artist Thought
|
Written on 3:00 AM by Kinetics
Pas lagi buka2 buku catetan pas SMA, ee ternyata nemu cerpen yang dulu dibikin pas SMA. Lumayan lah, daripada ga posting-posting wae, hehehe... :p
Aku Mencintaiku
Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, dua potong roti tawar yang dibumbui dengan selai strawberi kegemaranku sudah tersaji di meja makan. Segelas susu coklat panas tersaji di samping roti spesialku, seakan menunggu untuk dinikmati olehku. Ayahku memang baik, selalu bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan pagiku, walaupun kadang-kadang sikap dinginnya membuatku merasa kurang hangat saat berada di rumah. Tapi begitulah sikapnya setelah musibah yang menimpa ibuku enam bulan yang lalu. Waktu itu ibuku yang sedang mengandung tujuh bulan, terpeleset dan jatuh dari tangga. Kepalanya mengalami benturan keras sehingga ia meninggal dan kandungannya pun tak terselamatkan. Aku dan ayahku sangat terpukul pada saat itu, kami kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi kami, dan aku kehilangan seorang adik yang sangat kudamba-dambakan.
Setelah kuhabiskan sarapan pagiku, aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika aku memasukkkan buku terakhir ke dalam tas, aku merasa ada seseorang hadir di belakangku.
"Ayah?", aku sedikit kaget melihat tubuh kurus ayahku.
"Bisakah kau pulang lebih awal hari ini?", tanya ayahku dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ba...baik, sepertinya aku bisa, akan kuusahakan. Memangnya ada apa?", aku berdiri dan memakaikan tasku ke pundakku.
"Akan ada tamu istimewa.", jawab ayahku sambil berpaling dan berjalan menjauhiku dengan gaya berjalannya yang khas.
Tamu istimewa? aku terus memiirkan kata-kata ayahku itu sambil melangkahkan kaki menuju sekolahku yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumahku, sampai akhirnya aku sampai di gerbang sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk.
Baru kusadari bahwa ada suara langkah kaki yang bukan suara langkah kakiku, terdengar di belakangku. Ketika aku memalingkan kepalaku ke belakang, kulihat sesosok gadis yang tak asing bagiku, dengan rambut panjangnya yang terurai indah.
"Vira?", ucapku perlahan.
"Lho, Riki? Kebetulan sekali, aku memang ada perlu denganmu."
"Ada perlu apa, Vir?", tanyaku dengan nada menawarkan bantuan.
"Aku ingin meminjam catatan biologimu. Catatanku hilang sewaktu aku bermain ke rumah pamanku."
"Oh...Boleh saja. Kau datang saja ke rumahku sepulang sekolah."
"Baiklah kalau begitu. Sampai nanti!", kami berpisah di koridor sekolah, karena kelas kami berbeda. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis padaku. Entah kenapa aku sedikit menikmati senyumannya itu.
Aku segera bergegas pulang seusai pelajaran selesai karena ingat pesan ayahku tadi, didorong juga oleh rasa penasaranku akan kata-katanya. Kecepatan berjalanku bertambah ketika dari jauh kulihat Vira sudah berada di depan pintu gerbang rumahku.
"Ayo masuk, Vir!", sahutku ketika aku sampai di hadapannya.
"Ayo!", kami berdua masuk ke rumahku, dan sepertinya aku sedang kedatangan dua tamu, karena aku melihat seorang gadis yang wajahnya asing bagiku. Dia seorang gadis dengan rambut yang sedikit bergelombang, usianya kira-kira seumurku, kulitnya putih dan wajahnya memancarkan ekspresi datar dan misterius. Kulihat dia sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Aku bergegas menuju ayahku di meja makan yang sedang menikmati butiran-butiran kacang polong.
"Siapa gadis itu, Ayah?"
"Tamu istimewa kita.", jawab ayahku seadanya.
"Maksudku, siapa dia?", tanyaku sambil sekilas menengok ke arahnya. Anehnya, kulihat dia sedang menatap tajam Vira yang sedang berada di ruang tamu. Terlintas pikiran-pikiran negatif di kepalaku, tapi segera kuhilangkan karena jawaban ayah.
"Dia saudara jauhmu, namanya Sophia. Untuk sementara dia akan tinggal di sini, karena beberapa hari yang lalu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.", ayahku menjawab sambil meneruskan gigitan lembutnya.
"Begitukah? Kasihan sekali dia.", sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan kepada ayah tentang saudara jauhku itu, tapi aku teringat janjiku untuk meminjamkan catatan biologi milikku pada Vira. Aku segera mengambilnya dan menuju ruang tamu.
"Ini, buku catatan biologiku.", ucapku sambil memberikan catatanku itu pada Vira.
"Terima kasih! Besok akan kukembalikan padamu."
Beberapa kilas setelah Vira mengucapkan kata-katanya itu, kudengar suara tetesan ramai di atas genteng. Ternyata hujan turun dengan deras membasahi bumi ini.
"Wah! Sepertinya hujannya deras, Vir! Apakah kau hendak menunggu sampai reda?"
"Bagaimana, yah? aku harus pulang cepat hari ini, ada tugas yang hendak kukerjakan."
"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu dengan payung sampai tempat pemberhentian kendaraan umum.", tawarku.
"Baiklah kalau begitu, tapi apa tidak merepotkanmu?"
"Sama sekali tidak, Vir!", aku menjawab dengan tegas.
Aku segera mengambil dua buah payung dari garasi dan meminta izin pada ayahku untuk keluar sebentar. Sekilas kulihat ke arah ruang tengah. Aneh, Sophia sudah tak ada di depan televisi. Tapi segera kuhilangkan pikiran-pikiran negatif yang terlintas di kepalaku.
Aku memberikan sebuah payung kepada Vira dan segera mengantarkan Vira sampai ke depan gerbang kompleks perumahanku. di tengah perjalanan, guyuran hujan semakin deras saja, sehingga bagian belakang celanaku basah terkena cipratan air hujan. Ketika aku hendak memeriksanya, kulihat seseorang memakai jas hujan berwarna hitam berjalan agak jauh di belakang kami. Mukanya tak terlihat jelas karena terhalang oleh jas hujan, yang terlihat hanya wajah gelap. Tapi tak kuacuhkan seseorang itu dan kembali berjalan dengan Vira.
Setelah beberapa belokan kami lalui, kulihat orang berjas hujan itu masih berjalan di belakang kami.
"Vira, sepertinya kita diikuti seseorang."
"Kau yakin?", tanya Vira sambil menengok ke arah orang berjas hujan itu. Sejenak kami berdua menghentikan langkah kami.
"Entahlah!", jawabku.
Kulihat orang berjas hujan itu pun berhenti. Karena penasaran, kami berdua berjalan menghampirinya. Kulihat dia diam tak bergerak di tengah hujan deras itu.
"Maaf, mengapa anda mengikuti kami?", tanyaku tegas.
"Aku hanya ingin membeli makanan ke warung.", dia berkata sambil membuka penutup kepalanya dengan perlahan. Sepertinya aku kenal wajah itu.
(
To be continued...)
Posted in
Artist Thought
|